Tingkatkan Omzet UMKM, Tim UMP Latih KUB KMS Banyumas Olah Ikan Lele "Tanpa Sisa"
BANYUMAS — Keterbatasan variasi produk sempat membuat laju bisnis Kelompok Usaha Bersama (KUB) Karya Mandiri Sejahtera (KMS) di Desa Dukuhwaluh, Kecamatan Kembaran, Kabupaten Banyumas, berjalan lambat. Menjawab tantangan tersebut, tim pengabdian masyarakat dari Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) turun tangan memberikan pelatihan inovatif berupa pengolahan ikan lele berbasis Good Manufacturing Practices (GMP) dan konsep zero waste atau produksi tanpa limbah.
Sebelumnya, KUB KMS yang beranggotakan 14 orang ini hanya mengandalkan produksi makanan berbahan dasar waluh, seperti bolu, donat, dan puding. Sayangnya, produk ini tidak tahan lama dan minat pasar cukup terbatas karena masyarakat lebih mengenal waluh sebagai sayuran. Akibatnya, rata-rata omzet penjualan mereka tertahan di angka bawah Rp 5 juta per bulan.
Tim pengabdian UMP yang dipimpin oleh Suwarsito, bersama Dewi Susylowati dan Hindayati Mustafidah, merancang program pemberdayaan ini untuk mengatasi kendala tersebut sekaligus memaksimalkan potensi panen lele lokal yang harga jual segarnya relatif rendah. Kegiatan pendampingan ini telah dilaksanakan dari bulan Februari hingga Juni 2025.
Pendekatan Zero Waste dan Standar Higienis (GMP)
Dalam pelatihan tersebut, para pelaku UMKM diperkenalkan pada teknologi produksi berstandar GMP guna memastikan produk makanan yang dihasilkan aman, bermutu, dan layak konsumsi. Lebih dari itu, warga diajarkan untuk mengadopsi prinsip zero waste process, di mana seluruh bagian tubuh ikan lele dimanfaatkan secara optimal:
-
Daging ikan lele diolah menjadi aneka produk bernilai jual tinggi seperti abon, bakso, dan nugget.
-
Kulit ikan dijadikan camilan crispy kulit yang renyah.
-
Kepala dan tulang ikan tidak dibuang, melainkan dimanfaatkan menjadi kerupuk ikan.
-
Jeroan ikan digunakan sebagai pakan maggot, yang pada akhirnya maggot tersebut dimanfaatkan kembali sebagai pakan lele segar untuk efisiensi biaya budidaya.
Selain inovasi produk olahan, anggota KUB KMS juga dilatih menggunakan teknologi vacuum packing. Pengemasan hampa udara ini diterapkan sebagai solusi untuk meningkatkan daya simpan, mempertahankan kerenyahan, dan memperindah tampilan kemasan agar lebih menarik minat konsumen.
Omzet dan Keterampilan Meningkat Pesat
Evaluasi program menunjukkan hasil yang sangat menggembirakan. Keterampilan mitra yang sebelumnya didominasi oleh kategori "tidak mampu" sebesar 63,3%, berubah drastis pasca-pelatihan. Sebanyak 56,7% peserta kini tercatat "mampu" mempraktikkan pengolahan ikan berstandar kebersihan tinggi.
Dampak ekonominya pun langsung terasa nyata. Setelah kegiatan pendampingan selesai, omzet penjualan KUB KMS meningkat menjadi Rp 5 hingga 6 juta per bulan. Produk olahan ikan lele dalam kemasan vacuum ini berhasil terjual secara rutin sebanyak 15-20 kemasan setiap minggunya.
Menutup rangkaian kegiatan tersebut, tim peneliti UMP menyarankan agar ke depannya KUB KMS mulai merambah pemasaran digital (digital marketing) agar jangkauan pasar semakin luas. Kesuksesan program yang turut didanai oleh Majelis Diktilitbang Pimpinan Pusat Muhammadiyah ini membuktikan bahwa inovasi teknologi tepat guna dan pemanfaatan potensi lokal secara utuh dapat memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat desa.